Motivasi Sukses Bisnis HNI HPAI – Jadi Pengusaha Harus Siap “Bangkrut”!

Motivasi Sukses Bisnis HNI HPAI – Motivasi yang akan tetap menjaga semangat anda agar tetap Tegar menjalani Usaha dan syiar Produk Halal HNI HPAI.

Jika sebelumnya kita telah membaca pengantar mengenai prinsip dipegang oleh pengusaha yaitu lebih baik kecil jadi bos daripada gede jadi kuli maka kesempatan kali ini kita lanjutkan kembali dengan materi Tepok selanjutnya yaitu sikap mental seorang pengusaha Sukses. Menjadi pengusaha harus siap untuk bangkrut

Dengan uang tabungan 4,5 juta saya tekadkan untuk memulai usaha. Namum uang itu bukan untuk modal usaha, melainkan hanya untuk bisa bertahan hidup.

saya mendapatkan 2 orang pemodal, Seorang warga negara Singapura dan eks rekan kerja saya.

Ayah saya sempat bertanya kepada saya sebelum memulai usaha; Apa benar kamu mau usaha?
usaha apa?

“Saya jawab, ya pak usaha supplier spare part.”

“Udah siap?” Tanya papa lagi.

Sudah jawab saya singkat.

“Siap apa saja?” Kejar papa!

“Siap bangkrut!” Jawab saya menutup percakapan telepon itu.

Syukur alhamdulillah, hanya dalam waktu 3 bulan saya diwisuda bangkrut pertama kalinya. Nelongsoh sih saat itu. Tapi tidak ada tetesan air mata karena kebangkrutan Dalam kamus saya.

Untungnya masih ada uang receh yang saya kumpulkan di kaleng bekas minuman ZAPEL. Setidaknya saya masih bisa beli sebutir telur seharga rp500 tiap harinya sebagai pelengkap masakan mie goreng saya.

Memang tidak ada kata menyerah untuk menjadi seorang pengusaha. Pokoknya Bagaimana caranya harus jadi pengusaha. Tapi namanya masih dominan otak kiri jadi mikirnya yang urut-urut saja.

Saya mulai membuat surat lamaran kerja kali ini ke negeri Singapura dengan harapan bisa lebih cepat mengumpulkan modal. Apalagi saat itu tahun 98 Rupiah lagi anjlok-anjloknya.

Kerja 2 tahun mengumpulkan dollar balik ke Indonesia bangun usaha lagi. itulah yang ada di benak saya malam menjelang keberangkatan saya ke Singapura. Tapi malam itu benar-benar membuat saya terjaga dan berpikir ulang.

Kerja 1 tahun 4 bulan saja enggak betah apalagi 2 tahun di Singapura lagi yang tata krama nya notabene kurang. Nggak deh yau.

Think,… Think,… think dan Ting (bunyi lonceng di otak saya)😊

Kenapa tidak pakai cara yang dulu saya pernah pakai sebelumnya? Cari investor lagi!

Sekejap teringat beberapa nama yang dulunya adalah supplier saya saat saya bekerja sebagai buyer. Bersyukur sekali dulu saya tidak pernah mau menerima tawaran suap dari para supplier tersebut.

Jadi ya lagi-lagi tokcer. sekali bidik langsung setuju jadi partner sekaligus investor.

Itulah usaha saya yang kedua kalinya meskipun tak berjalan dengan langgeng kerjasama itu namun saya sangat bersyukur bisa belajar banyak dan membangun jaringan yang luas baik terhadap customer maupun supplier

Dari mulai naik ojek, door to door salesman, merangkap tukang antar barang, angkat barang, pembelian, dan bagian admin, tumbuh menjadi grup perusahaan seperti saat ini bukan berarti semuanya berjalan mulus. Rugi, ditipu, bangkrut, adalah Vutamin saya menjadi pengusaha yang tahan banting.

Apa yang akan anda baca dalam kisah-kisah selanjutnya bukanlah cerita fiksi namun kisah nyata dari perjalanan saya membangun usaha dari nol dan bahkan minus. Membaca materi ini tidak akan merubah hidup anda tapi dengan mempraktekkannya insyaallah nasib Anda akan berubah.

Kuncinya adalah kerjakan tugas-tugas dan ikuti aturan pakai. Salam sukses

“Diambil dari Buku TEPOK – The Power of Kepepet Karya Jaya Setiabudi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Telpon Sekarang!
Hub. Via WA!