seri Motivasi Spiritual Bisnis HNI HPAI – Tetaplah Bertaqwa Dalam Pekerjaanmu!

71

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu dan salam sukses untuk anda semua Agen HNI HPAI yang luar biasa. Semoga semakin semangat dan termotivasi dalam syiar produk halalnya ke seluruh pelosok negeri.

Salah satu cara untuk meningkatkan semangat atau menambah Motivasi dalam Dakwah dan Amar ma’ruf adalah dengan mendengarkan atau membaca kisah – kisah orang Shaleh. Motivasi itu akan muncul jika kita bisa mengambil pelajaran di dalam kisah tersebut.

Salah satu Kisah yang bisa kita ambil pelajaran di dalamnya, hikmah yang bisa memberi kita motivasi adalah kisah Seorang Pencuri yang Tetap Bertakwa Saat Melakukan pekerjaannya.

Seperti sebua Paradoks ya, Seorang Pencuri namun tetap bertaqwa. Seperti apa kisahnya silahkan di baca dan ambil pelajaran. Semoga bisa memotivasi kita dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.

 

Kisah Seorang Pencuri yang Tetap Bertaqwa Saat Mencuri!

Dikisahkan Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syaikh.

 

Motivasi Spiritual Bisnis HNI HPAI - Tetaplah Bertaqwa Dalam Pekerjaanmu!
Ilustrasi Gambar Mendengarka Pelajaran kepada Seorang Syaikh.

 

Setelah lama menuntut ilmu, Sang Syaikh menasihati dia dan teman-temannya, “Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya.

Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”

 

Maka, pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya, “Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?”

Sambil bergetar ibunya menjawab, “Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?”

Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak.

 

Karena sang anak terus saja memaksa akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata, “Ayahmu itu dulu seorang pencuri!”

Pemuda itu berkata, “Guruku memerintahkan kami – murid-muridnya – untuk bekerja seperti pekerjaan ayah Kami dan dengan Ktakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”

Ibunya menyela, “Hai, apakah Dalam Pekerjaan Mencuri itu ada Ketakwaan?”

Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab, “Ya, begitu kata guruku.”

Lalu dia pergi bertanya kepada orang-orang dan belajar bagaimana para pencuri itu melakukan aksinya.

 

Shalat Saat Melakukan Aksi Pencurian

Sekarang dia mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian shalat Isya’ dan menunggu sampai semua orang tidur. Sekarang dia keluar rumah untuk menjalankan profesi ayahnya, seperti perintah sang guru (syaikh).

Dimulailah dengan rumah tetangganya.

Saat hendak masuk ke dalam rumah dia ingat pesan syaikhnya agar selalu bertakwa. Padahal mengganggu tetangga tidaklah termasuk Bagian dari Taqwa.

Akhirnya, rumah tetangga itu di tinggalkannya.

 

Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya, “Ini rumah anak yatim, dan Allah memperingatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim.”

Hmmm…

 

Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. “Ahhaaa, di sini sasaranku,” gumamnya penuh rasa gembira.

Pemuda tadi pun memulai aksinya.

Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang disiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya.

Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta.

 

seri Motivasi Spiritual Bisnis HNI HPAI - Tetaplah Bertaqwa Dalam Pekerjaanmu! 1

Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya.

Lalu dia berkata, “Eh, jangan, syaikhku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu.”

Dia mengambil buku-buku catatan di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya.

Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan berpengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya.

Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing.

Dia berbicara sendiri, “Ingat takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!” Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air untuk selanjutnya melakukan shalat sunnah.

Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat.

 

Seri Motivasi Spiritual Bisnis HNI HPAI
Seri Motivasi Spiritual Bisnis HNI HPAI – Ilustrasi Orang yang sedang Shalat di tengah malam

 

Isterinya bertanya, “Apa ini?”

Dijawab suaminya, “Demi Allah, aku juga tidak tahu.”

Lalu dia menghampiri pencuri itu, “Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?”

Si pencuri berkata, “Shalat dulu, baru bicara. Ayo, pergilah berwudhu, lalu shalat bersama. Tuan rumahlah yang berhak jadi imam.”

Karena khawatir pencuri itu membawa senjata si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi –wallahu a’lam- bagaimana dia bisa shalat.

Selesai shalat dia bertanya, “Sekarang, coba ceng ada dan memperkirakan berapa zakatnya.

Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing. Dia berbicara sendiri, “Ingat takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!” Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air untuk selanjutnya melakukan shalat sunnah.

Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat.

Isterinya bertanya, “Apa ini?” Dijawab suaminya, “Demi Allah, aku juga tidak tahu.” Lalu dia menghampiri pencuri itu, “Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?” Si pencuri berkata, “Shalat dulu, baru bicara. Ayo, pergilah berwudhu, lalu shalat bersama. Tuan rumahlah yang berhak jadi imam.”

Karena khawatir pencuri itu membawa senjata si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi –wallahu a’lam- bagaimana dia bisa shalat.

 

Mendapat Hadiah Istri

Selesai shalat Pemilik Rumah Kembali bertanya, “Sekarang, coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?”

Dia menjawab, “Saya ini pencuri.”

“Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?”, tanya tuan rumah lagi.

Si pencuri menjawab, “Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak.”

Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan. Lalu dia berkata, “Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau ini gila?”

Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal. Dan setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan, serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, juga mengetahui manfaat zakat, dia pergi menemui isterinya.

Mereka berdua dikaruniai seorang puteri. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, kemudian berkata, “Bagaimana sekiranya kalau kau aku nikahkan dengan puteriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini. Kau kujadikan mitra bisnisku.” Ia menjawab, “Aku setuju.”

Di pagi hari itu pula sang tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah puterinya.

Sumber: Kisah-Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi`in, Orang-orang Dulu dan Sekarang, karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi, penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. (alsofwah.or.id)

 

Hikmah dan Pelajaran Untuk Kita.

Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Salah satu yang

pelajaran yang bisa kita ambil adalah Sikap Taqwa itu tidak mengenal Waktu dan tempat. Sebagai seorang Mukmin, sikap taqwa itu WAJIB menjadi Warna Segala Kegiatan dan Pekerjaan yang kita lakukan.

Demikian pula dalam Menjalankan bisnis dan Berusaha. Sikap dan sifat Taqwa ini hendaknya menjadi Ciri Khas Kita.

Tetaplah Bertaqwa dalam berusaha. Menjadi orang yang amanah, jujur, niat yang lurus dan tidak menzalimi Mitra Usaha Kita. Wallahau a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Telpon Sekarang!
Hub. Via WA!