Seorang Muslim Adalah Gambaran Saudaranya – Sebuah Renungan

‘Amr telah belasan tahun menjadikan silat lidahnya sebagai senjata paling
mematikan bagi da’wah Sang Nabi. Lalu setelah hari Hudaibiyyah yang menegangkan itu, hidayah menyapanya. Dia, bersama Kholid Ibn al-Walid dan ‘Utsman ibn Tholhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Mereka disambut senyum Sang Nabi, dilayani bagai saudara yang dirindukan, dimuliakan begitu rupa.

Bagaimanapun, ‘Amr merasa hanya dirinya yang istimewa. Itu tampak dari sikap, kata-kata, dan perlakuan Sang Nabi padanya.

Hari itu dia merasa Sang Rosul pastilah mencintainya melebihi siapapun, mengungguli apapun. *Pikirnya, itu disebabkan bakat
lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi da’wah*. Terasa sekali.

Maka dia beranikan diri meminta penegasan. “Ya Rosululloh,” dia berbisik ketika kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Siapakah yang paling kau cintai?”

Sang Nabi tersenyum. “’Aisyah,” katanya.
“Maksudku,” kata ‘Amr, “Dari kalangan laki-laki.”

“Ayah ‘Aisyah.” Rosululloh terus saja tersenyum padanya.
“Lalu siapa lagi?”
“’Umar.”
“Lalu siapa lagi?”
“’Utsman.” Dan beliau terus tersenyum.

“Setelah itu,” kata ‘Amr berkisah di kemudian hari, “Aku menghentikan pertanyaanku. Aku takut namaku akan disebut paling akhir.”

‘Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Kholid dan ‘Utsman, bahwa *Muhammad adalah jenis manusia yang
membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga*.

Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.

Nabi itu indah dan menakjubkan memang.

Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa *berada di dekatnya menjadikan
setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa mempesona*.

Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.

“Mukmin yang satu”, kata Sang Nabi, “Adalah cermin bagi mukmin yang lain.”

Lihatlah Saudaramu dan Bercerminlah, tetapi bukan untuk takjub pada bayang-bayang melainkan untuk melihat dengan seksama.

Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak berkenan di hati dalam bayangan itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang- bayang.

Yangharusdiperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Telepon Sekarang!
Hub. Via WA!